Indonesia belajar dari China soal teknologi reaktor pendingin gas temperatur tinggi

Indonesia-belajar-dari-China-soal-teknologi-reaktor-pendingin-gas-temperatur-tinggi

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir mengatakan bahwa Indonesia akan terlebih dahulu mempelajari teknologi reaktor suhu tinggi berpendingin gas (HTGR) dari Tiongkok sebelum diproduksi.

“Untuk teknologi nuklir, kita harus belajar dulu. Teknologi HTGR sebenarnya berasal dari Jerman, Cina, dan Jepang, dan ternyata China sekarang lebih maju. Kami sekarang belajar dari mereka,” kata Nasir setelah berbicara pada pertemuan MoUs telah menandatangani kontrak dengan Menteri Riset dan Teknologi Cina Wan Gang Pejabat Hubungan Masyarakat Indonesia-Cina berperingkat 3 di Solo pada hari Selasa.

Kesepakatan itu, yang menurutnya akan dicapai, adalah kolaborasi penelitian khusus HTGR, di mana ia berharap akan ada pengembangan laboratorium di Indonesia.

“HTGR tidak hanya bisa menjadi pembangkit listrik, tetapi sumber panasnya juga bisa digunakan untuk berbagai keperluan,” lanjutnya.

Sebelumnya, kepala Badan Energi Nuklir Nasional (Batan), Djarot Sulistio Wisnubroto, mengatakan kepada Antara bahwa bekerja dengan reaktor pendingin gas suhu tinggi antara Indonesia dan China untuk alasan keamanan dan energi akan memperkuat program pengembangan Puspiptek untuk reaktor daya eksperimental (RDE) . Serpong.

“Omong-omong, Cina sudah memiliki teknologi ini dan sedang membangun yang lebih besar,” kata Djarot.

Dia melanjutkan dengan mengatakan bahwa kedua negara benar-benar menginginkan “laboratorium umum” di mana kedua belah pihak dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam program HTGR.

pembiayaan
Ketika ditanya apakah akan ada dana pengembangan RDE, dia mengatakan tidak ada diskusi ke arah itu. Tidak ada diskusi tentang harga atau kontrak karena Indonesia sebenarnya tetap terbuka untuk negara lain.

Batan juga ingin membangun apa yang sudah dikuasainya, dan sisi baru yang belum dikuasainya dipelajari dari negara-negara yang lebih maju.

“Tetapi kemungkinan mereka menginginkan lebih banyak untuk ekspor teknologi.”

Menurut Djarot, teknologi HTGR sendiri memiliki masa depan yang cerah, terutama untuk industri peleburan, pencairan batu bara dan lainnya. Oleh karena itu teknologi ini tidak hanya digunakan untuk menghasilkan listrik.

“Ya, karena panasnya juga bisa digunakan untuk desalinasi air laut

, bisa digunakan dalam berbagai cara. Batan ingin membangun ini jika RDE sudah dibangun sebagai proyek percontohan di Serpong dengan daya 10 megawatt, karena nanti akan digunakan di daerah lain dengan energi komersial yang besar bisa dibangun, “lanjutnya.

Tiga MoU
Menristekdikti dan Menteri Riset dan Teknologi Cina Wan Gang menandatangani rencana aksi tiga tahun di bidang sains, teknologi, dan inovasi (sains dan teknologi) untuk periode 2018 hingga 2020, pengaturan untuk implementasi pengembangan pelabuhan dan untuk pencegahan bencana dan pengurangan dan pengaturan untuk kerjasama implementasi dalam sains dan teknologi teknologi.

Nasir mengatakan pertemuan itu mengubah tindakan menjadi fase implementasi

dari perjanjian kerja sama. Pada pertemuan sebelumnya di Guiyang, Cina pada 2016, ada nota kesepahaman tentang program beasiswa dan “Pengakuan Mutual dalam Kualifikasi Universitas Akademik”. Sudah ada 700 siswa Indonesia di Cina yang melanjutkan pendidikan mereka.

Penandatanganan tersebut berlangsung pada pertemuan resmi Hubungan

Masyarakat Indonesia-Cina tingkat tinggi ketiga di Solo, disaksikan oleh Menteri Koordinasi Muan untuk Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok Liu Yandong dan sejumlah pejabat senior dari kedua negara.

 

sumber :

https://radiomarconi.com/
https://9apps.id/
https://dosenpendidikan.id/
https://gurupendidikan.org/